Selasa, 22 Januari 2013

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA KOMPETENSI PEMBENTUKAN HARGA PASAR KELAS  VIII C  SMP NEGERI 12 PEKALONGAN


BAKTI  INDRIANISARI
GURU IPS SMP NEGERI 12 PEKALONGAN
EMAIL : bakti.indrianisari@yahoo.com


ABSTRAK
Prestasi belajar siswa SMP Negeri 12 Pekalongan kelas VIIIC masih belum memuaskan. Penulisan ini mempunyai tujuan untuk menentukan dan menjelaskan penerapan media pembelajaran berbasis multimedia sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar IPS di SMP 12 Pekalongan. Penilitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( classroom action research ). Pada kondisi awal (prasiklus) prestasi belajar IPS kelas VIIIC pada kompetensi pembentukan harga pasar masih rendah. Dari 28 siswa yang nilainya kurang dari KKM ada 15 siswa (53,57 %), sesuai batas KKM ada 7 siswa (25%) dan melebihi batas KKM ada 6 siswa (21, 43%) dengan rata-rata kelas 66,75. Setelah adanya tindakan (action) pada siklus pertama prestasi belajar IPS mulai mengalami peningkatan. Dari hasil evaluasi akhir diperoleh rata - rata kelas 75, 82 dengan nilai tertinggi 90, nilai terendah 65. Dari 28 siswa yang nilainya di bawah KKM ada 7 siswa (25%), diatas KKM ada 20 siswa (71,43%), batas tuntas KKM ada 1 siswa (3,57%). Karena belum memenuhi minimal 85% siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 ( tujuh puluh dua ) maka perlu adanya tindak lanjut pada siklus kedua. Pada siklus kedua diperoleh hasil evaluasi belajar pada akhir pelajaran dengan rata – rata kelas 82,11 dengan nilai tertinggi 100 dengan nilai terendah 68. Hal ini menunjukkan pada siklus kedua prestasi belajar IPS kelas VIIIC sangat memuaskan. Selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia, siswa menyerap materi ajar agar lebih mendalam dan utuh, selain itu proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, jelas dan menarik. Oleh karena itu media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dapat digunakan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran untuk diterapkan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah baik di tingkat SD sampai perguruan tinggi.
Kata kunci : Prestasi belajar IPS, media pembelajaran, multimedia interaktif

PENDAHULUAN
Dalam Undang – undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pembelajaran diartikan sebagai proses interaktif peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam aktivitas pembelajaran, Heinich mengatakan media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang membawa informasi atau pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara guru dan siswa (Furqon, 2005). Dari pengertian tentang media dan pembelajaran maka pengertian media pembelajaran adalah semua alat (bantu) yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini peserta didik) yang dapat merangsang pemikiran, perasaan dan perhatian penerima pesan hingga tercipta bentuk komunikasi (pembelajaran).
Kemampuan professional guru adalah sejauh mana guru menguasai metodologi pembelajaran dan media pembelajaran di sekolah untuk kepentingan anak didiknya. Guru yang menguasai media pembelajaran akan memungkinkan berhasil mengembangkan pengetahuan peserta didik dalam bidang ilmu yang diampunya, sehingga optimalisasi tujuan pembelajaran dalam berbagai ranah baik afektif, kognitif maupun psikomotorik dapat terwujud.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bersamaan pula dengan perkembangan teknologi multimedia menjadikan media pembelajaran berbasis IT. Ini semakin berkembang dengan pesat, meski demikian masih banyak guru di dalam proses pembelajarannya bersifat konvensional yang cenderung pasif, monoton dan membosankan. Hal ini dapat pengakibatkan tujuan pembelajaran yang mencakup aspek ranah kognitif, afektif dan psikomotorik tidak dapat tercapai secara optimal.
Multimedia merupakan perpaduan antara berbagai media (format file) yang berupa teks, gambar, grafik, sound, animasi, video, interaksi dan lain – lain yang telah dikemas dalam file digital (komputerisasi). Pemanfaatan multimedia sangat banyak diantaranya untuk media pembelajaran, game, film, medis, militer, bisnis, desain, iklan, olahraga dan lain – lain (Wahono, 2007). Multimedia interaktif terkait dengan komunikasi dua arah atau lebih dari komponen – komponen komunikasi. Komponen – komponen dalam multimedia interaktif (berbasis komputer) adalah hubungan antara manusia (sebagai pengguna produk) dan komputer (software / aplikasi / produk dalam format file tertentu, biasanya dalam bentuk CD / Compact Disk). Multimedia interaktif memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Kelabihan media berbasis komputer (multimedia) ini antara lain : (1). Mampu menampilkan teks, gerak, grafik, suara dan gambar. (2). Dapat digunakan secara interaktif, hubungan dua arah, (3). Komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.
Kompetensi dasar pembentukan harga pasar adalah materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VIII Semester dua. Materi ini perlu adanya pemahaman dan penguasaan yang mendalam oleh para siswa agar dapat tuntas belajarnya. Apalagi materi ini dipandang sebagai materi esensial yang punya nilai lebih yang perlu mendapatkan perhatian terkait dengan kegiatan – kegiatan ekonomi yang dilakukan baik perorangan, kelompok, swasta, maupun pemerintah untuk mencapai kemakmuran masyarakat.
Peneliti merasa prihatin terhadap prestasi belajar IPS terutama pada kompetensi pembentukan harga pasar di kelas VIIIC SMP Negeri 12 Pekalongan tahun 2011 / 2012, terbukti dengan banyaknya siswa yang mendapatkan nilai rendah di bawah KKM yaitu di bawah nilai 72. Jumlah siswa kelas VIII C berjumlah 28 siswa. Dari 28 siswa yang nilainya kurang dari KKM ada 15 siswa ( 53,57 % ) sesuai batas KKM ada 7 siswa ( 25 % ) sedangkan yang melebihi batas KKM ada 6 siswa ( 21,43 % ) dengan rata – rata kelas 66,75. Sementara targetnya minimal 85 % siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 sampai 100. Namun hal tersebut belum dapat diwujudkan, sehingga peneliti menganggap hal ini perlu untuk diteliti dalam sebuah penelitian tindakan kelas. Ketidakberhasilan tersebut dapat diperbaiki melalui penggunaan media yang berbasis komputerisasi atau multimedia interaktif. Multimedia interaktif ini selain berisi materi ajar juga dilengkapi dengan kuis / pertanyaan untuk merangsang keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga materi ajar yang disampaikan dapat mudah dipahami dengan baik sehingga prestasi belajar IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar dapat meningkat. Multimedia interaktif ini memadukan unsur grafik, data, video, suara, animasi yang disusun secara praktis dan sistematis. Penggunaan multimedia interaktif ini sangat membantu guru dalam menyampaikan materi ajarnya sehingga pemahaman yang masih abstrak berubah menjadi pemahaman yang kongkrit karena peserta didik secara langsung terlibat dengan media tersebut.
Dari pemikiran di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “ Apakah dengan menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan prestasi belajar IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar. Secara praktis penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat baik bagi peserta didik, guru maupun praktisi pendidikan dan masyarakat tentang penggunaan multimedia pembelajaran interaktif untuk meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Sumber kajian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII C dari  Sekolah Menengah Pertama Negeri 12 Pekalongan. Alasan pemilihan siswa kelas VIII C karena kelas VIII C untuk prestasi belajar IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar paling rendah dibandingkan dengan kelas delapan lainnya. Sasaran dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan yang telah diuraikan pada rumusan masalah yaitu menjelaskan penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan prestasi belajar IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar di kelas VIII C SMP Negeri 12 Pekalongan. Penelitian ini menggunakan dua siklus dengan tahapan  (1). Perencanaan (Planning), (2). Tindakan (Action), (3). Pengamatan (Observation), (4). Reflekting (Reflection). Alasan penggunaan dua siklus karena pada siklus pertama hasil penelitian belum mencapai minimal 85% siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 (tujuh puluh dua) sesuai dengan KKM yang ditetapkan. Pada siklus pertama masih 75% siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 dari KKM telah ditetapkan. Penelitian ini menggunakan sumber data dari (1). Guru yaitu berupa hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, (2). Siswa yaitu berupa hasil belajar / hasil test. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti dan penanggungjawab penuh. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas, di mana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan hingga sampai tindakan refleksi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode tes digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai data kognitif siswa dan metode non tes digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku dan sikap dalam pembelajaran IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar dengan menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif. Data non tes diperoleh melalui 1).Wawancara , 2).Observasi / pengamatan.
Teknik analisis data menggunakan : 1). Analisis data kualitatif terdapat beberapa aktivitas antara lain reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Data kualitatif berupa hasil observasi siswa.  2). Analisis data kuantitatif berupa hasil tes antar siklus. Adapun indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah  1). Keberhasilan individu yaitu siswa harus mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 72 (Tujuh puluh dua), 2). Keberhasilan klasikal dinilai dari nilai rata – rata siswa yang mampu memperoleh  nilai ≥ 72 atau sama dengan persentase ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 85%  dari jumlah siswa

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada kondisi prasiklus yang peneliti lakukan pada tanggal : 2 April 2012 bahwa nilai ketuntasan pembelajaran IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar di kelaas VIII C SMP Negeri 12 Pekalongan masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (72). Dari 28 siswa yang nilainya kurang dari KKM 72 sebanyak 15 siswa atau 53,57% sedangkan yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal 72 ada 13 siswa atau 46,43% dengan rata – rata kelas 66,75. Tingkat keaktifan siswa sebelum menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada kondisi prasiklus siswa memang cenderung pasif (diam). Hampir seluruh siswa di kelas VIII C tidak semanga , tidak bergairah dalam proses kegiatan belajar mengajar. Selama proses KBM berlangsung siswa yang aktif mengemukakan ide – ide / gagasan hanya 2 anak atau 7,14%, antusias (gairah) dalam belajar  hanya 5 anak atau 17,86 % , fokus pada pelajaran hanya 5 anak atau 17,86%, Mengajukan dan menjawab pertanyaan hanya 2 anak ( 7,14 %). Dari permasalahan pada kondisi awal inilah, peneliti perlu adanya penelitian dalam sebuah penelitian tindakan kelas atau classroom action research. Penelitian tindakan ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, dimana tiap – tiap siklus terdapat beberapa tahapan, yaitu 1). Refleksi awal, 2).Perencanaan, 3). Tindakan ,dan  4). Analisis dan refleksi. Alasan penelitian ini dilaksanakan dua siklus karena pada siklus pertama hasil penelitian belum mencapai minimal 85% siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 (tujuh puluh dua ) sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan. Pada siklus pertama masih 75 % siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 dari KKM yang telah ditetapkan. Dari tindakan siklus pertama diperoleh hasil pada tabel 1. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa masih sebagian siswa yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Mengemukakan ide – ide / gagasan 14 siswa atau 50 %, mengajukan dan menjawab pertanyaan 14 siswa atau 50%, Fokus terhadap pelajaran 15 siswa (53,57%) dan antusias dalam belajar juga 15 siswa (53, 57%). Apabila dibandingkan pada kondisi awal (prasiklus) dengan kondisi pada siklus pertama dalam tingkat keaktifan sudah mengalami peningkatan meski belum mencapai peningkatan yang signifikan. Pada siklus pertama para siswa sudah menunjukkan perubahan dalam proses belajarnya. Mereka merasa senang, bergairah, antusias, dan perhatian terhadap mata pelajaran IPS. Adapun hasil belajar berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru pada akhir pelajaran dapat dilihat pada tabel 3. Dari tabel 3 dapat dilihat rata – rata kelas 75,82 nilai tertinggi 90, dan nilai terendah 65, siswa yang memenuhi batas kriteria ketuntasan minimal 72 ada 1 siswa (3,57 %) dan melebihi KKM ada 20 siswa ( 71,43%)
Deskripsi tentang uraian di atas dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk proses pembelajaran yang menggunakan multimedia interaktif pada siklus kedua. Adapun langkah yang diambil untuk menyelesaikan masalah di atas adalah (1). Pada akhir siklus pertama siswa diberi tugas untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada saat pertemuan berikutnya, (2).Siswa diberi informasi bahwa pembelajaran untuk hari berikutnya tetap menggunakan multimedia interaktif sebagai media pembelajaran agar pada pertemuan berikutnya siswa akan lebih siap mengikuti kegiatan proses pembelajaran. Adapun hasil refleksi terhadap guru sebagai fasilitator pada siklus pertama ini masih terdapat kekurangan sehingga perlu adanya perbaikan untuk dilakukan pada siklus berikutnya yakni siklus kedua antara lain : (1). Guru harus lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran, (2). Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam menerapkan strategi pembelajarannya termasuk pemilihan dan penggunaan media pembelajaran yang akan digunakan, (3). Guru harus dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna agar siswa tetap semangat, bergairah, perhatian dalam belajar.
Pada saat siklus kedua berlangsung, tingkat keaktifan siswa dalam menyampaikan ide – ide / gagasan ada 25 siswa ( 89,28%), gairah dalam belajar ada 26 siswa ( 92,86%), perhatian siswa ke pelajaran ada 26 ( 92,86%), mengajukan dan menjawab pertanyaan  ada 25 siswa ( 89,28%) lihat tabel 2. Apabila peneliti melihat tabel 2 maka untuk keaktifan siswa mengalami peningkatan yang luar biasa. Hampir seluruh siswa dapat beradaptasi dengan media pembelajaran berbasis multimedia tersebut sehingga kesulitan dan permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses belajarnya dapat teratasi dan pemahaman siswa terhadap isi materi yang semula abstrak ( verbalistik ) berubah menjadi pemahaman isi materi yang kongkrit ( nyata ) sehingga prestasi belajar IPS yang diraih oleh siswa pada kompetensi pembentukan harga pasar meningkat. Hal tersebut dilihat pada hasil evaluasi yang dilaksanakan pada siklus kedua ( lihat tabel 4) dimana ada 26 siswa ( 92,86%) memenuhi kriteria ketuntasan minimal, nilai tertinggi = 100, dan nilai terendah 68, sedangkan rata – rata kelas  82,11. Apabila dilihat dari target yang akan dicapai minimal 85% siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 berarti pada siklus kedua telah memenuhi indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini. Hal terebut disebabkan karena : (1).Siswa sudah terbiasa dengan menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif, (2). Siswa merasa senang karena guru sudah terbiasa secara kreatif dan inovatif dalam pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan (jenuh), (3). Pembelajaran dikemas dalam suasana yang menyenangkan sehingga siswa belajar bukan merupakan suatu beban, (4). Siswa tanpa adanya suatu tekanan dapat mengemukakan ide – ide / gagasan secara bebas , (5). Siswa secara aktif mengajukan dan menjawab pertanyaan baik dari guru maupun siswa itu sendiri, (6). Adanya hubungan interaktivitas antara siswa dengan media sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru, dimana pemahaman yang semula abstrak berubah menjadi pemahaman yang kongkrit. Adanya  keseragaman pemahaman mengakibatkan prestasi belajar IPS pada kompetensi pembentukan harga pasar menjadi meningkat.

SIMPULAN
Pada pengamatan (observasi) awal, peneliti melihat proses pembelajaran sebelum menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif, siswa cenderung pasif (diam), kurang respon terhadap pelajaran bahkan kondisi kelas ramai. Siswa tidak fokus (perhatian) terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Hal tersebut disebabkan karena dalam pembelajaran guru masih konvensional (teacher centered).
Pada prasiklus (kondisi awal) prestasi belajar rendah yakni ketuntasan belajar hanya 46,43% atau 13 siswa dari 28 siswa dengan nilai rata – rata 66,75. Adapun nilai tertinggi pada tahap prasiklus 85 dan nilai terendah 50. Setelah adanya tindakan pada siklus pertama perolehan prestasi belajar berdasarkan penilaian (evaluasi) yang diberikan guru pada akhir pelajaran 21 siswa (75%) yang memenuhi kriteria ketuntasan  minimal dengan nilai rata – rata 75,82  nilai tertinggi 90, dan nilai terendah adalah 65. Adanya hasil yang diperoleh pada siklus pertama ternyata masih belum sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh sekolah yakni 85 % dari  jumlah siswa yang mendapatkan nilai minimal 72, maka dilanjutkan dengan siklus kedua. Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru pada akhir pembelajaran pada siklus kedua menunjukkan jumlah siswa yang sudah memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal yang ditargetkan guru dalam mengerjakan soal evaluasi adalah sejumlah siswa 26 dengan nilai rata – rata 82,11 , nilai tertinggi 100, nilai terendah 68. Jadi indikator keberhasilan dicapai setelah siklus kedua selesai, karena sudah memenuhi kriteria keberhasilan minimal 85% siswa mencapai ketuntasan minimal 72 yaitu 92,86%
Dari pembahasan yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar IPS. Hal ini disebabkan dalam penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif menjadikan siswa menjadi aktif, bergairah, semangat, dan antusias dalam belajar. Selain itu adanya hubungan interaktivitas antara siswa dengan media sehingga pemahaman siswa terhadap isi materi yang semula abstrak menjadi pemahaman yang kongkrit (adanya keseragaman pemahaman)
Oleh karena itu disarankan penggunaan multimedia interaktif sebagai media pembelajaran dapat dijadikan sebagai salah satu media pembelajaran alternatif untuk diterapkan pada mata pelajaran IPS. Sehubungan dengan peningkatan mutu / kualitas pembelajaran di sekolah maka perlunya optimalisasi penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar IPS. Bagi pihak sekolah seharusnya menyediakan fasilitas yang dapat menunjang pelaksanaan proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Tabel 1 :  Hasil siklus I tentang keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif
No
Aspek Aktivitas
Siswa yang aktif
Persentase
1.
Mengemukakan ide – ide ( gagasan )
14
50%
2.
Mengemukakan dan menjawab pertanyaan
14
50%
3.
Fokus terhadap pelajaran (perhatian)
15
53,57%
4.
Gairah dalam belajar (antusias)
15
53,57%
Sumber : Diolah dari hasil penelitian

Tabel 2 :     Hasil siklus II tentang keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif
No
Aspek Aktivitas
Siswa yang aktif
Persentase
1.
Mengemukakan ide – ide ( gagasan )
25
89,28%
2.
Mengemukakan dan menjawab pertanyaan
25
89,28%
3.
Fokus terhadap pelajaran (perhatian)
26
92,86%
4.
Gairah dalam belajar (antusias)
26
92,86%

Tabel 3 :     Nilai Tes Formatif pada siklus I
No Urut
Nilai
Keterangan
No. Urut
Nilai
Keterangan
T
TT
T
TT
1.
75
-
15.
78
-
2.
65
-
16.
68
-
3.
65
-
17.
75
-
4.
75
-
18.
65
-
5.
68
-
19
72
-
6.
80
-
20.
85
-
7.
78
-
21.
85
-
8.
76
-
22.
78
-
9.
80
-
23.
75
-
10.
85
-
24
83
-
11.
68
-
25
80
-
12.
90
-
26
65
-
13.
73
-
27
80
-
14.
78
-
28
78
-
Jumlah
1056
10
4
Jumlah
1067
11
3
Jumlah Skor Maksimal Ideal    2800
Jumlah skor  tercapai               2123
Rata – rata Skor tercapai         75,82
Persentase siswa yang Tuntas   75%
Nilai tertinggi                          :     90
Nilai terendah                         :     65





Tabel 4       Nilai Tes Formatif pada siklus II
No Urut
Nilai
Keterangan
No. Urut
Nilai
Keterangan
T
TT
T
TT
1.
80
-
15.
85
-
2.
72
-
16.
82
-
3.
68
-
17.
80
-
4.
82
-
18.
68
-
5.
83
-
19
75
-
6.
90
-
20.
88
-
7.
82
-
21.
88
-
8.
80
-
22.
82
-
9.
85
-
23.
80
-
10.
90
-
24
90
-
11.
75
-
25
95
-
12.
100
-
26
75
-
13.
75
-
27
85
-
14.
82
-
28
82
-
Jumlah
1144
13
1
Jumlah
1155
13
1
Jumlah Skor Maksimal Ideal    2800
Jumlah skor  tercapai               2299
Rata – rata Skor tercapai         82,11
Persentase siswa yang Tuntas   92,86%
Nilai tertinggi                          :     100
Nilai terendah                         :     68





Gambar 1 : Peningkatan ketuntasan  siswa  dari prasiklus sampai dengan siklus 2
   

DAFTAR  PUSTAKA
-          Peraturan  Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
-          “ Multimedia Interaktif “ , http : // www.eduksi .net / sosialisasi / Multimedia Interaktif
-          “ Multimedia Pembelajaran “ , http : // www.Ilmu Komputer.org/2008/01/26/multimedia pembelajaran
-          Lif Khoiru Ahmadi, M.Pd, Sofan Amri, S.Pd , 2007, Mengembangkan Pembelajaran IPS Terpadu, PT.Prestasi Pustakaraya, Jakarta
-          Seni Apriliya, 2007, Manajemen Kelas untuk Menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif: PT Visindo
-          Silberman, Melvin L, 2004. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa
-          Hendy Hermawan. 2010. Teori Belajar dan Motivasi : CV Citra Praya




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar