Selasa, 22 Januari 2013

PENELITIAN TINDAKAN KELAS 2


PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS
 PADA KELAS VIIIC SMP NEGERI 15 PEKALONGAN
MELALUI  MEDIA PEMBELAJARAN TEKA-TEKI SILANG (TTS)

Dra. Mufidah
SMP Negeri 15 Pekalongan
  Email : smp15pekalongan@gmail.com

ABSTRAK
Hasil belajar  siswa Kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih kurang dari 60% siswa yang dapat mencapai KKM. Berdasarkan keadaan tersebut, guru melakukan upaya agar hasil belajar siswa dapat meningkat, yaitu dengan melakukan tindakan berupa penggunaan media Teka-teki Silang ( TTS ) dalam kegiatan pembelajaran, sebagai media siswa dalam mengerjakan latihan soal-soal. Tujuan penelitian ini adalah untuk  meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran IPS yang dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan test dan non test, dengan alat pengumpul data berupa lembar tugas, lembar post test, dan lembar pengamatan baik oleh guru terhadap siswa maupun  terhadap guru oleh kolaborator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan terhadap  hasil belajar siswa Kelas VIII C setelah diadakan tindakan, bila dibandingan dengan hasil belajarnya sebelum diadaakan tindakan. Penggunaan Media Pembelajaran berupa TTS dapat meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas VIIIC SMP Negeri 15 Pekalongan. Karena melalui media TTS sebagai sarana dalam mengerjakan latihan soal-soal,  siswa akan berusaha untuk  menemukan jawaban soal-soal dalam mengisi TTS, sehungga siswa akan lebih mudah untuk memahami materi pelajaran. mereka tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran dan akan lebih mudah mengingat materi yang telah dipelajari.
Kata kunci : hasil belajar, IPS, media pembelajaran, Teka-teki Silang ( TTS )

PENDAHULUAN
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengembangan diri, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan yang dimiliki dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1, butir 1 ).Dalam Kurikilum 2004 yang disempurnakan juga diharapkan bahwa proses pembelajaran harus mampu menciptakan suasana yang aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga siswa mampu mengembangkan diri sesuai dengan lingkungannya.  Namun demikian sampai saat ini dunia pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta yang harus dihafal. Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama dalam strategi pembelajaran..
Itulah kenyataan yang dihadapi oleh sebagian besar guru IPS. Materi pelajarannya yang kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang mudah tapi susah, bersifat hafalan dan membosankan, sehingga menyebabkan rendahnya perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rendahnya perhatian siswa pada mata pelajaran IPS, ditambah dengan strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.                
Kondisi yang demikian terjadi pula di  SMP Negeri 15 Pekalongan. Hasil belajar siswa kelas VIII terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih rendah karena nilai  ulangan mereka tidak sampai  60% yang bisa mencapai nilai KKM.  Sementara kegiatan pengajaran dikatakan berhasil apabila 85% siswa dikelas itu dapat mencapai KKM. Hal itu menandakan bahwa pembelajaran IPS kurang menarik, karena guru masih menggunakan menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang siswa untuk belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih menekankan pada aspek pengetahuan saja, belum menyentuh pada sikap dan kreatifitas siswa, karena guru kurang melibatkan siswa agar aktif dalam proses pembelajaran.
   Rendahnya hasil belajar IPS pada siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan dapat dilihat dari rendahnya nilai ulangan siswa untuk mata pelajaran IPS. Hasil ulangan harian siswa sebelum diadakan tindakan hanya 46% siswa yang dapat mencapai  KKM, atau siswa yang memiliki nilai diatas 60  masih jauh dari 85%, sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran  tidak tuntas.  Kegiatan ulangan remidialpun seringkali tidak dapat membantu memperbaiki dan menaikkan nilai mereka.
Selama ini dalam kegiatan pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah yang diterapkan secara murni, sehingga siswa merasa tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa seolah-olah hanya diharuskan untuk menghafal fakta-fakta, sehingga siswa merasa bosan dan kurang berminat terhadap kegiatan pembelajaran. Keadaan yang demikian ternyata menjadi salah satu fakta yang berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa.
Pada ulangan harian pertama  (semester 2 ) sebelum diadakan siklus, siswa yang tuntas ( mencapai KKM ) atau memiliki nilai 60 keatas sebanyak 20 orang atau sebesar 55,6  %. Siswa yang tidak tuntas atau dengan nilai kurang dari 60 sebanyak 16 orang atau sebesar 44,4 %, dengan nilai rata-rata kelas 55,8.
            Dari gambaran keadaan diatas dapat disimpulkan bahwa  ketuntasan belajar kelas VIII C secara klasikal belum tuntas, karena baru mencapai 55,6% atau kurang dari 85 % siswa yang tuntas atau mendapatkan nilai minimal 60, nilai yang diperoleh siswapun masih berada pada nilai dengan tingkat sedang. Kondisi yang demikian mendorong peneliti untuk mengadakan inovasi dalam kegiatan pembelajaran dengan  mencoba melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui penggunaan media yang diharapkan dapat menjadi strategi untuk menarik minat siswa dalam belajar.
Penyebab mengapa prestasi belajar siswa rendah pada setiap ulangan harian dapat diduga antara lain karena siswa kurang memahami konsep pengajaran IPS. Siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas rumah ( PR ), minat baca siswa rendah, dan tidak mau bertanya pada saat proses pembelajaran. Guru masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang melibatkan siswa untuk aktif dalam pelajaran, Akibatnya materi pelajaran menjadi kurang menarik.
Dari berbagai permasalahan di atas , ada satu masalah utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS. Upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS ialah dengan menggunakan media pembelajaran berupa Teka-Teki Silang ( TTS ). Menurut Soeparno, 1988 ), dalam proses pembelajaran siswa akan lebih mudah mencerna isi materi pelajaran bila digunakan alat bantu atau media, baik berupa media cetak ( buku, modul, brosur, atau sejenisnya ) atau media non cetak yang berupa media elektronik ( audio, videi, film, dsb. ). Teka-Teki Silang (Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas ) adalah suatu permainan dimana kita harus mengisi ruang-ruang kosong berbentuk kotak putih dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuknya bisa dibagi kedalam kategori pertanyaan mendatar atau menurun, tergantung pada arah kata-kata yang harus diisi. Pemilihan media Teka-Teki Silang  cocok untuk diterapkan pada materi IPS  kelas VIII semester 2, karena materi-materi tersebut lingkupnya luas dan bersifat hafalan sehingga tidak efektif bila dilakukan pembelajaran dengan metode ceramah ataupun diskusi
Dengan menggunakan media ini diharapkan akan dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap mata pelajaran IPS, karena siswa akan aktif mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang harus diselesaikan. Partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran akan dapat meningkatkan hasil belajarnya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini  adalah meningkatkan hasil belajar IPS melalui penggunaan Media Pembelajaran Teka-Teki Silang pada siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan.
 METODE  PENELITIAN
        Penelitian ini dilaksanakan di Kelas VIIIC yang siswanya berjumlah 36 orang, terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Kelas VIII C merupakan kelas yang mengalami kesulitan dalam memahami  konsep-konsep pembelajara IPS, karena hasil ulangan harian IPS mereka ketika semester 1 rata-rata dibawah KKM   ( kurang dari 60 ). Kondisi siswa sebagian besar adalah pasif dalam kegiatan pembelajaran, dan mereka cenderung bersifat masa bodoh. Sarana pembelajaran yang selama ini digunakan pada mata pelajaran IPS adalah buku paket, LKS, Peta, Atlas dan Globe.
     Metode  yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif komparatif, yaitu dengan membandingkan  nilai antar siklus. Untuk alisis data dilakukan secara kuantitatif  dan kualitatif.  Analisa kuantitatif digunakan untuk menganalisa hasil test, sedangkan analisa kualitatif digunakan untuk menganalisa hasil observasi. Sumber data dalam kegiatan penelitian ini adalah : (1).   Siswa , berupa hasil  proses pembelajaran dan evaluasi ( Post test ), (2). Guru  : berupa hasil pengamatan selama proses pembelajaran           
 Tehnik yang digunakan untuk mengumpulkan data    adalah    dengan :
(1). Test, menurut Suharsimi Arikunto ( 2006 : 223 ) digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tes dilakukan dalam bentuk ulangan harian ( post test ) untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa dalam menerima pembelajaran melalui media TTS. Dilaksanakan setiap akhir siklus. Test ( Post Test ), digunakan  untuk mengetahui hasil belajar siswa, dilakukan evaluasi dalam bentuk post test pada akhir kegiatan pembelajaran.Hasil post test siswa adalah nilai prestasi belajar sebagai indikator kemampuan individu pada mata pelajaran IPS setelah memperoleh pembelajaran dengan media TTS. (2). Observasi ( pengamatan ), dilaksanakan dengan melakukan observasi ( pengamatan ) terhadap aktifitas     siswa pada saat pembelajaran dan mengamati kinerja guru dalam menerapkan media TTS pada kegiatan pembelajaran.      Observasi ( pengamatan ), digunakan oleh kolaborator untuk memperoleh data aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan kinerja guru dalam menerapkan pembelajaran menggunakan media TTS. (3).Dokumentasi, berupa daftar nilai ulangan harian sebelum kegiatan pembelajaran menggunakan media TTS.   
Instrumen/alat pengumpulan datanya meliputi : (1) Instrumen 1  :  berupa  lembar  pengamatan kegiatan guru, (2) Instrumen 2  :  berupa lembar pengamatan kegiatan siswa, (3) Instrumen 3  :  berupa lembar  penilaian.
Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi dalam setiap siklus, maka prosedur penelitian ini dilakukan melalui proses berupa : rencana, tindakan, observasi dan refleksi serta revisi hingga mencapai tujuan yang diharapkan.    
Rencana tindakan yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut : (1). Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ), (2). Menyiapkan media pembelajaran berupa TTS untuk latihan soal-soal, (3).  Menyiapkan Lembar Pengamatan Kegiatan Siswa, (4). Menyiapkan Lembar Pengamatan Kegiatan Guru, (5). Menyiapkan soal-soal post test, (6). Menyiapkan kunci jawaban  TTS dan Post Test.
Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan TTS sebagai  media pembelajaran adalah :
1.     Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2.   Guru menugaskan siswa untuk membaca buku-buku sumber ( buku-buku paket atau LKS ) dengan menunjukkan materi yang harus dikuasai dan memberikan batasan waktu ( 20 menit ).
3.        Untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam pendalaman materi tersebut, siswa ditugaskan untuk mengerjakan latihan soal-soal dalam bentuk TTS. Waktu mengerjakan TTS di batasi, ( 20 menit ).
4.        Guru mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran agar siswa berusaha  menyelesaikan tugasnya sendiri-sendiri.
5.        Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa untuk dievaluasi sebagai nilai tugas individual. Nilai siswa dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang diisi dengan benar.
6.        Untuk menguji kemampuan siswa ( evaluasi ) guru melakukan ulangan dalam bentuk post test yang dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran
Kegiatan tindakan pada Siklus I dan II ini dilaksanakan dengan bantuan kolaborator.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa oleh peneliti selama kegiatan pembelajaran menggunakan media TTS pada Siklus I dengan materi  “Pengendalian Penyimpangan Sosial” didapatkan data tentang besarnya motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, keaktifan dalam mencari jawaban soal-soal melalui materi yang telah dipelajari dan kemandirian siswa dalam menyelesaikan tugasnya.
Pada aspek Motivasi , 80% siswa telah memiliki motivasi untuk mengikuti pelajaran. Aspek Keaktifan  77,9 % ,ini terlihat dari kesungguhan dari sebagian besar siswa dalam berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam TTS dengan aktif membaca buku sumber. Aspek Kemandirian 75,7 % , yang  tampak pada cara mereka berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam TTS yang dilakukan dengan bersaing secara sehat, karena adanya motivasi dari guru dengan memberi pujian bagi yang selesai lebih cepat dari teman lainnya.
Berdasarkan hasil kegiatan pengamatan kegiatan siswa oleh peneliti pada ketiga aspek, dapat disimpulkan bahwa rata-rata motivasi,keaktifan dan kemandirian siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media TTS adalah 77.9% .
Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mengadakan kerjasama dengan seorang kolaborator yang kebetulan juga sebagai Kepala Sekolah disekolah kami, yaitu Bapak Slamet Suroso, S. Pd. Kolaborator melakukan pengamatan terhadap kegiatan guru selama kegiatan pembelajaran didalam kelas. Adapun hasil penilaian dari pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator terhadap kegiatan yang dilakukan peneliti ialah:
Ketika siklus I, pada aspek Kegiatan Pendahuluan peneliti mendapatkan skor 32 dari skor maksimal yang seharusnya 40. Artinya, pada aspek kegiatan pendahuluan peneliti baru melakukan 80 % dari kegiatan yang telah direncanakan dalam RPP. Pada aspek kegiatan inti, peneliti mendapat skor 23 dari skor maksimal yang seharusnya 30. Berarti peneliti baru melaksanakan 76,7 % dari semua kegaiatan yang telah direncanakan. Dan pada aspek kegiatan penutup, skor yang diberikan oleh kolaborator adalah 20 dari skor maksimal yang seharusnya 25. Ini mengandung maksud bahwa peneliti baru melaksanakan 80 % dari kegiatan yang direncanakan. Dan secara keseluruhan, rata-rata kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan peneliti pada siklus I dapat tercapai sebesar 78,9 %.
Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media TTS ditindaklanjuti dengan mengadakan penilaian terhadap tugas individu dengan menilai hasil pekerjaan siswa dalam latihan soal-soal  melalui media TTS. Hasil siswa dalam latihan soal-soal  menggunakan media TTS  diketahui bahwa 28 siswa memiliki nilai antara 60 – 90 yang ini berarti 80% siswa telah tuntas. Sedangkan 7 siswa lainnya masih mendapatkan nilai kurang dari 60, artinya 20% siswa belum tuntas, sedangkan nilai rata-rata kelasnya adalah 65,9. Maka dapat dikatakan bahwa pada siklus I kegiatan pembelajaran  secara klasikal di Kelas VIII C belum tuntas, karena siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan nilai mencapai KKM baru 80 %. Namun demikian nilai yang mereka dapatkan dalam nilai tugas setelah diadakan tindakan kelas sudah bagus.
Penilaian juga dilakukan dengan mengadakan evaluasi berupa post test pada akhir kegiatan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah mereka pelajari. Hasil evaluasi melalui post test pada siklus I, menunjukkan bahwa siswa yang tuntas ( mencapai nilai KKM ) atau memiliki nilai 60 keatas adalah sebanyak 27 siswa atau sebesar 77,1 %, sedangkan siswa yang tidak tuntas atau memiliki nilai kurang dari 60 adalah sebanyak 8 siswa atau sebesar 22,9 %, dan nilai rata-rata kelasnya 67,4. Hal ini dapat diartikan bahwa hasil ulangan siswa Kelas VIII C secara klasikal belum tuntas, karena  kurang dari 85 % siswa yang tuntas atau mendapatkan nilai 60 keatas. Namun demikian, dengan penggunaan TTS sebagai media pembelajaran hasil belajar siswa lebih meningkat bila dibandingkan dengan hasil belajar mereka pada pra siklus, dan nilai yang mereka dapatkanpun sudah berada pada tingkat cukup tinggi, karena sudah ada yang mendapatkan nilai 100.
            Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa oleh peneliti pada siklus II dengan materi “ Pelaku-pelaku Ekonomi dalam Sistem Perekonomian Indonesia, selama kegiatan pembelajaran menggunakan media TTS didapatkan data tentang  motivasi siswa yang lebih besar dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, keaktifan siswa yang lebih serius  dalam mencari jawaban soal-soal, dan kemandirian siswa dalam menyelesaikan tugasnya juga lebih baik.
Besarnya motivasi siswa pada siklus II, dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media  TTS  adalah sebesar 92,9 % . Hal ini dapat diartikan bahwa lebih dari  92 % siswa memiliki motivasi untuk mengikuti pelajaran. Terbukti ketika mengerjakan  tugas,  siswa terlihat bersungguh-sungguh dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas pada siklus II, adalah sebesar 92,1 % . Hal ini dapat dilihat dari kesungguhan  siswa dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam TTS, dengan aktif mencari jawabannya dari buku sumber. Kemandirian  siswa dalam kegiatan pembelajaran pada siklus II adalah 89. Namun demikian kemandirian siswa belum sepenuhnya terjadi karena masih ada siswa yang bertanya-tanya tentang jawaban pada teman sebelahnya.
Berdasarkan hasil kegiatan pengamatan kegiatan siswa terhadap ketiga aspek oleh peneliti , dapat disimpulkan bahwa rata-rata motivasi, keaktifan dan kemandirian siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media TTS pada siklus II adalah 91,4% .
Hasil pengamatan yang dilakukan kolaborator pada peneliti di siklus II ialah ,  pada aspek kegiatan pendahuluan peneliti mendapatkan skor 36 dari skor maksimal yang seharusnya 40. Artinya, pada aspek kegiatan pendahuluan peneliti sudah melakukan 92,5 % dari rencana kegiatan yang disiapkan. Pada aspek kegiatan inti, peneliti mendapat skor 27 dari skor maksimal yang seharusnya 30. Berarti peneliti telah melaksanakan 90% dari semua kegaitan yang telah direncanakan. Dan pada aspek kegiatan penutup, skor yang diberikan oleh kolaborator adalah 22 dari skor maksimal yang seharusnya 25. Artinya peneliti telah melaksanakan 92 % dari kegiatan yang direncanakan. Secara keseluruhan, rata-rata kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan peneliti dapat tercapai sebesar 91,5 %.
Penilaian terhadap tugas individu dengan menilai hasil pekerjaan siswa dalam latihan soal-soal  melalui media TTS pada siklus II adalah,  33 siswa memiliki  nilai antara  60 sampai  90, yang ini berarti 94,3 % siswa telah tuntas. Sedangkan 2 siswa lainnya masih mendapatkan nilai kurang dari 60, artinya 5,7 % siswa belum tuntas, dan nilai rata-rata kelasnya ialah 81. Jadi pada siklus II ketuntasan belajar kelas VIII C secara klasikan telah tuntas, karena sudah lebih dari 85 % siswa mendapatkan nilai 60 keatas.
Hasil post test pada siklus II adalah , siswa yang tuntas ( mencapai nilai KKM ) atau memiliki nilai 60 keatas adalah sebanyak 31 siswa atau sebesar 88,6 %, sedangkan siswa yang tidak tuntas atau memiliki nilai kurang dari 60 adalah sebanyak 4 siswa atau sebesar 11,4 %. Nilai rata-rata kelas 72,8. Hal ini dapat diartikan bahwa hasil ulangan siswa Kelas VIII C pada siklus II secara klasial tuntas karena  sudah mencapai 88,6  % siswa yang telah tuntas atau mendapatkan nilai 60 keatas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media TTS dalam kegiatan pembelajaran, prsetasi belajar siswa lebih meningkat.
            Perbandingan hasil ulangan siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
No
Nilai
Jumlah Responden
Ketuntasan
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
TT
T
TT
T
TT
T
1
≤ 59
16
8
4
16

44,4%
20

55,6%
8

22,9%
27

77,1%
4

11,4%
31

88,6%
2
60 -69
11
6
5
3
70 – 79
8
10
10
4
80 – 89
1
9
12
5
90 -100
-
2
4

Jumlah
36
35
35
36
35
35

Rata-rata
55,8
67,4
72,8

            Dari tabel di atas didapatkan informasi bahwa setelah diadakan tindakan kelas dengan menggunakan media TTS sebagai media pembelajaran pada pelajaran IPS, hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya hasil ulangan siswa pada siklus I ke siklus II bila dibandingkan dengan pada pra siklus. Perbandingan hasil ulangan siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
SIMPULAN
                Berdasarkan hasil penelitian penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan, penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut :
Penggunaan model pembelajaran TTS dalam kegiatan pembelajaran IPS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, keaktifan siswa dalam kegiatan belajar serta kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas. Hal ini disebabkan karena dengan media pembelajaran berupa TTS siswa lebih tertarik untuk belajar dan aktif dalam pembelajaran. Sikap negatif siswa seperti  suka berbicara atau bermain-main sendiri dengan temannya pada jam pelajaran IPS menjadi berkurang, karena siswa aktif mencari jawaban dalam buku materinya untuk dapat menyelesaikan TTS nya. Dengan mencari jawaban atas pertanyaan dalam TTS berarti siswa telah berusaha untuk belajar dengan baik. Siswa merasa dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran, sehingga tidak merasa jenuh atau bosan dengan pelajaran IPS, bahkan mereka terlihat tertarik dan asyik dengan belajarnya. Model pembelajaran dengan media TTS telah nyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus I dengan ketuntasan 77,1 % menjadi 88,6 % pada siklus II.
Maka secara umun dapat dikatakan bahwa penggunaan model pembelajaran teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VIII C SMP Negeri 15 Pekalongan pada semester II Tahun Pelajaran 2010 / 2011.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pembinaan SMP, 2006, Pengembangan Media Pembelajaran, Dirjen Manajemen Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Soeparno, 1988, Media Pengajaran, Intan Pariwara, Surakarta.
Suharsimi Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta.
Wikipedia, 2010, Teka-teki Silang,  http : // id.wikipedia.Org / Wiki / TTS
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar